Akhirnya…

Ya… akhirnya hari yang dinanti-nantikan itu datang juga. Saya sama sekali tak menyangka akan begitu cepat. Beribu perasaan tumpah-ruah, berkecamuk dalam hati saya, menunggu saat tersebut tiba. Jika tidak ada halangan, Insya Allah saya akan melaksanakan Sidang pada hari Jum’at, 23 November ini. Yang mengejutkan adalah, saya akan langsung Sidang tanpa melakukan Pra-Sidang terlebih dahulu -seperti prosedur biasanya. Mengapa bisa demikian? Begini ceritanya…

 

Alkisah, pada suatu hari Minggu yang cerah, saya dan teman saya, Benny (bukan nama sebenarnya -tapi memang nama panggilannya) berjalan-jalan ke kota. Kami naik delman istimewa bernama Supra-X dan saya duduk di muka, alias menyetir. Singkat cerita, kami memasuki suatu jalan yang di kanan-kirinya terlihat banyak pohon cemara. Di jalan itu juga terdapat pandai besi-pandai besi dengan berbagai macam spesialisasi. Ada pandai besi pembuat baju zirah, tameng, pedang, keris, rencong, sampai vitamin penambah zat besi. Jalan yang menakjubkan itu berakhir di sebuah pertigaan dengan arah jalan ke kiri dan ke kanan. Kami bermaksud mengambil jalan ke kiri, tapi sebelum itu terjadi, mata saya terganggu sebuah rambu:

 

DILARANG BELOK KIRI

 

Di bawah rambu itu juga terdapat keterangan tambahan:

 

Jam sekian sampai sekian…

… kecuali angkot…

jam segini sampai segitu…

bla bla bla…

 

Repotnya, saya hanya punya 2-3 detik untuk sejenak berpikir, menerjemahkan maksud rambu tersebut, dan mengambil tindakan, sebelum kendaraan di belakang saya mulai memaki-maki. Namun, alih-alih berusaha menerjemahkan rambu itu, saya malah mengambil pendekatan lain: learning by example. Saya melihat ada 2 kendaraan di depan saya. Paling depan adalah angkot, dan ia belok kiri. Lalu selanjutnya ada mobil pribadi. Ia juga belok kiri. Nah… lalu kenapa kami tidak belok kiri juga?

 

Maka belok kirilah kami. Wah, ternyata jalanan sepi dan lancar. Hingga sampai di ujung jalan, kami melihat seseorang dengan setelan berwarna cokelat yang tersenyum ramah dan melambai-lambai seperti mengatakan, “mampir dulu, dik”. Lalu kamipun membalas dengan anggukan sopan seolah berkata “terima kasih pak, kami terus saja”. Tapi ternyata, dia tak cuma sendiri saja, di sebelahnya ada seseorang, dua orang, bahkan tiga orang lagi dengan setelan serupa yang juga tersenyum ramah dan melambai-lambai. Akhirnya, tak tahan dengan keramahan mereka, saya menepikan kendaraan. Kami berdua lalu bertemu dengan satu orang yang sepertinya paling ramah.

 

Kami bercakap-cakap…

 

SSCTRM (Seseorang dengan Setelan Cokelat yang Tersenyum Ramah dan Melambai-lambai): “Siang, mas…”

Saya dan Benny “(berbarengan) Siang, pak!”

SSCTRM: “(sambil tersenyum) Mas mau ke mana ya?”

Saya: “Oh, mau ke anu pak. Masih jauh ya pak?”

SSCTRM: “(masih tersenyum) Oh enggak. Nih, setelah perempatan ini tinggal lurus saja”

Saya dan Benny: “O…”

SSCTRM: “(tetap tersenyum) Mas masih kuliah ya?

Saya: “Iya pak…”

SSCTRM: “Kuliah di mana mas?”

Saya: “ITB pak”

SSCTRM: “Oh, ITB… Ngambil jurusan apa mas?”

Saya: “Informatika”

SSCTRM: “Oh, Informatika… Semester berapa sekarang?”

Saya: “Sudah tingkat akhir pak”

SSCTRM: “Oh, begitu… sedang TA dong…”

Saya: “Iya tuh pak”

SSCTRM: “Wah, nanti rencananya mau kerja di mana?”

Saya: “(sambil nyengir kuda) Waduh… belum kepikiran tuh pak”

SSCTRM: “Ah ya ya… mas tinggal di mana?”

Saya: “Di Cisitu, pak”

 

 

Setelah semua basa-basi-sok-ramah-tidak-penting tersebut, kamipun sampai ke inti pembicaraan.

 

SSCTRM: “Jadi begini ya mas, tampaknya mas telah melakukan pelanggaran. Seharusnya nggak boleh belok kiri. Mas kurang teliti ya baca rambunya?”

Saya: “(terkejut) Wah! Habis rambunya sulit sekali dimengerti, pak. Sumpah deh, lebih susah daripada analisis looping

SSCTRM: “Ya… gitu dech mas. Pokoknya mas kena tilang, dan harus segera sidang”

Saya: “(terkejut lagi) Ha??? Sidang Pak? Lho… Saya ‘kan belum Pra-Sidang…”

SSCTRM: “(keheranan) Pra-Sidang? Nggak, nggak perlu Pra-Sidang kok. Langsung sidang saja, mas”

Saya: “(makin terkejut) Ha??? Nggak perlu Pra-Sidang, Pak? Serius???”

SSCTRM: “(makin keheranan) Serius pisan ini mah, mas! Datang saja nanti ke Jl. Riau. Sidangnya hari Jumat, 23 November”

 

Nah, begitulah kejadian yang sebenarnya. Saya kena tilang, dan harus mengikuti sidang. Sebenarnya, SSCTRM itu sempat menawarkan saya -dengan sangat baik hati- kalau-kalau ternyata di tanggal segitu saya “nggak ada waktu”, sidang itu bisa tidak dihadiri dengan cara membayar “biaya denda”. Berapa jumlahnya?

 

SSCTRM: “(sambil nyengir) Biasanya, untuk ‘pelanggaran seperti itu’ sih cukup 25 ribu saja mas”

 

Dari pengalaman tawar-menawar barang, saya teringat sebuah prinsip: bahwasanya penawaran pertama sebaiknya setengah dari harga yang diberikan. Tapi kalau 12,5 ribu jumlahnya jadi ganjil…

 

Saya: “Wah, kalau 10 ribu aja gimana pak?”

SSCTRM: “Nggak bisa, harga pas mas. Memang segitu”

 

Tidak berhasil dengan prinsip tersebut, saya mencoba menawar lagi. Kali ini dengan prinsip “menaikkan sedikit harga tawar” plus “beli borongan”.

 

Saya: “Oke, begini deh pak, gimana kalau 25 ribu, berdua dengan mas yang itu (menunjuk korban tilang lain)”

SSCTRM: “(sewot) Tah papa! Cem beli sayur saja kau!”

Saya: “Oh, yaudah kalo gitu saya cari di tempat lain saja…”

 

Untuk yang terakhir itu, saya pakai prinsip “tinggalkan penjual”. Dan sedetik kemudian, saya diborgol…

 

[Perhatian! Cerita di atas setengah fiktif dan setengah fakta. Jika terdapat kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian, maka itu adalah bagian faktanya...]

 

 

Hikmah yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah…

 

Sebagai pengemudi kendaraan, anda sebaiknya mempunyai mata yang tajam, kemampuan berpikir serta mengambil keputusan dengan cepat. Hal ini berguna untuk:

  1. Membaca -dan menerjemahkan dengan benar- rambu-rambu yang sulit dimengerti (misalnya seperti kasus di atas)
  2. Membaca gerak-gerik SSCTRM. Jika terlihat gelagat mencurigakan (tersenyum ramah, melambai-lambai), sebaiknya anda segera memutar arah kendaraan. Tapi hal ini harus dilakukan dari jarak sangat jauh, sebelum ia melihat dan memergoki anda.

kapanpulang?

Wah… setelah berkeliling mengunjungi Yogya-Tawangmangu-Solo-Gombong, dan balik lagi ke Tangerang… Pada akhirnya saya kangen Bandung…

Teater

Semua orang terpana, takjub dengan peran. Mereka mengagumi orang-orang bertopeng. Mereka ingin memakai topeng itu. Tampil di depan yang lain. Dielu-elukan, disoraki, dikenali semua orang. Tapi, tak mungkin semua orang menjadi aktor.

Maka, mereka yang kurang yakin akan kemampuannya, menepi, menonton manusia-manusia bertopeng yang menurut mereka beruntung itu. Dalam mimpi mereka, merekalah pemeran utama. Makanya mereka terus menonton dan terus pula bermimpi. Muka mereka berbinar, kadang tersenyum, kadang bersedih, bahkan tak jarang menangis. Mereka mengikuti drama kehidupan ini, dari awal sampai akhir, tanpa iklan, tanpa beranjak dari tempat duduknya yang sudah sedemikian nyaman karena pelayanan Sang pemilik Teater memang sungguh-sungguh hebat. Betapa tidak, di Kitab-Kitab Sejarah tertulis mereka tetap duduk dan menonton selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Mereka tahu, sampai saat ini cerita kehidupan itu belum pernah dan mungkin tak akan pernah tamat. Namun, hal itu tidak menghalangi mereka untuk terus menonton hingga pada akhirnya mereka tertidur untuk selamanya. Mungkin sebagian dari mereka berharap akan menjumpai akhir cerita itu.

Cerita itu sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak kakek-nenek moyang mereka masih hidup. Cerita itu ditulis dan diwariskan secrara turun-temurun dalam garis keluarga mereka. Itulah sebabnya, menonton cerita itu menjadi salah satu tujuan hidup bagi mereka dan keturunan-keturunan mereka. Mereka diwajibkan untuk melengkapi cerita, ini selalu merupakan titah dari eyang-eyang mereka. Padahal, sekali lagi, mereka tahu cerita itu sendiri tidak jelas kapan berakhirnya.

Tapi, entah kenapa wajah mereka selalu berbinar-binar seperti menandakan penikmatan. Barangkali inilah yang sering ibuku katakan sebagai “Kebahagiaan”. Barangkali, ya… barangkali. Karena bagaimana aku tahu sementara aku saja belum pernah menonton di Teater itu?

<< re-post dari blog di Friendster, 19 April 2005 >>

Hot Chocolate

Kira-kira setahunan yang lalu, di jam-jam senggang Kerja Praktek (KP) saya iseng-iseng mengunjungi waserda yang ada di lantai dasar (kantor saya di lantai 4). Mata saya tertarik ke suatu produk Cadbury yang belum pernah saya temui sebelumnya:

Cadbury Hot Chocolate

Seperti tertulis di kemasannya, “Hot Chocolate Instant”, ini minuman cokelat instan :P. Saya coba beli dan mencicipi. Enak. Besoknya saya beli lagi. Besoknya juga, malah saya beli banyak untuk dibawa pulang. Begitu selesai masa KP, saya pikir produk ini akan mudah dijumpai di toserba-toserba lain. Ternyata tidak. Di Bandung inipun saya tidak bisa menemukannya. Saya sudah mencari di Super Indo, Hypermart, Yogya, Borma, Indomaret. Tidak ada sama sekali. Ada yang punya rekomendasi tempat lain?

Bagi Anda penggemar English Premier League (EPL) seperti saya, bersiaplah kecewa malam minggu besok. Karena saat Anda memutar Trans7 di televisi dengan harapan menikmati pertandingan “segar” di awal musim, Anda tidak lagi mendapati lapangan hijau mulus, tidak lagi mendengar suara teriakan termasuk tepuk tangan khas penonton sepakbola di Inggris. Lalu mungkin Anda mulai berpikir apakah Anda salah melihat jadwal, atau Anda sudah lupa hari apa saat itu? Ternyata tidak kedua-duanya. Ya, Trans7 sudah tidak meneruskan siaran EPLnya lagi dan beralih menyiarkan Serie-A Liga Italia. Lalu siapa yang kini menyiarkan EPL? Jawaban yang sudah pasti adalah Astro. Tapi, tentu saja ini berarti EPL menjadi tidak enak (nggak gratisss!). Karena Astro adalah jasa televisi berlangganan. Bahkan, rumor yang beredar menyebutkan kemungkinan memang hanya Astro saja (yang berhak menyiarkan), dan tidak untuk televisi berlangganan lainnya seperti Indovision, Kabelvision, dan “vision-vision” lainnya. Padahal saya sudah merencanakan untuk menumpang nonton di tempat teman yang berlangganan salah satu “vision” tersebut.

 

Nah, kalau begini barulah terasa nikmatnya di negeri kita Indonesia, yang masih bisa menonton siaran-siaran mahal dengan gratis. Siaran langsung sepakbola seperti Liga Eropa (Liga Inggris, Liga Italia, Liga Jerman, Liga Champions), kompetisi antar negara (Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Amerika) adalah contoh tontonan mahal yang di beberapa negara harus dikompensasi dengan sejumlah uang. Sementara kita di sini bisa menikmatinya dengan santai hampir di seluruh pelosok negeri yang luas ini. Pokoknya, thanks to perusahaan rokok deh, yang selalu menjadi sponsor utama siaran-siaran tersebut. Namun ternyata kemampuan tersebut pun ada batasnya. Tahun ini sepertinya EPL telah menjadi begitu mahal sehingga tidak ada lagi yang berminat menanggung biaya hak siarnya.

 

Memang, EPL (katanya) adalah liga termahal di dunia. Hak siar senilai 625 juta poundsterling (Rp 10,8 triliun) untuk tiga musim (2007/2008-2009/2010) -berarti sekitar Rp 3,6 triliun tiap musimnya, harus ditebus untuk menikmati EPL. Kalau dihitung lagi kasarnya, sepekan siaran EPL bakal menyedot uang sponsor sebanyak Rp 75 miliar. Bagi lagi dengan 7 hari: sponsor harus bayar sekitar Rp 10 miliar sehari! Melihat angka yang menakjubkan ini, pemikiran orang awam seperti saya sih sederhana: berarti sponsor harus mencari pendapatan lebih dari 10 miliar sehari untuk menutupinya. Hmmm…

 

Bagi saya sendiri, EPL sudah menjadi “pacar” yang wajib saya “apeli” di malam Minggu. Kalau ternyata sekarang sudah tidak bisa lagi, ya berarti mungkin ini saatnya untuk saya mencari “pacar” baru (yang “beneran”? :P). Atau saya bisa berusaha untuk tetap setia dengan mengunjungi acara-acara nonton bareng gratis di kafe-kafe, atau mencari teman yang berlangganan Astro, atau marilah beramai-ramai meningkatkan pembelian rokok biar tahun depan EPL kembali ada :D.

 

Sumber: detikBola Liga Inggris, Kompas Cyber Media