Tiga Ratus (300)

Senin kemarin, saya menonton film (di bioskop) berjudul “300”. Film ini adalah film perang kolosal yang terinspirasi dari kisah nyata sejarah Yunani: Battle of Thermopylae. Tigaratus pasukan nan gagah berani dari Sparta (ditambah pasukan dari Athena yang akhirnya malah kabur) yang dipimpin Raja Leonidas, berperang dalam mempertahankan wilayah Yunani dari serbuan segambreng (banyak banget!) pasukan Kekaisaran Persia di bawah Xerxes.

Kata sumber yang bisa dipercaya sih (teman saya –“si gondrong yang (sudah) tidak gondrong”), film ini luar biasa visual effect-nya. Itu sudah dia bilang sejak sebulan-dua bulan lalu setelah dia melihat trailer-nya. Ada juga salah satu penyiar RaseFM yang bilang kalau di luar sana film ini sukses merebut banyak penonton di minggu perdananya. Kedua alasan itu sudah cukup membuat saya menonton film ini –di bioskop tentunya. Sebelum menonton, ada sih teman saya yang bilang kalau film ini sudah keluar di “R*l*ks” (baca: tinggal download, langsung tonton!). Tapi, di benak saya sih, terlalu sayang kalau film ini cuma ditonton di layar berukuran 15″, dan dengan dua speaker yang diameternya cuma 2 cm. Mana nikmat, bung… Ini bukan cuma soal kepuasan menonton, tapi juga penghargaan terhadap si pembuat film.

Walhasil, menontonlah saya dengan fasilitas yang harus dibayar 25 ribu rupiah per 2 jam. Dua puluh lima ribu untuk hari Senin? Ya… Awalnyapun saya kira nomat (nonton hemat), tapi ternyata hari itu “tanggal merah”. Maklum, buat saya hari Senin selalu libur, soalnya nggak ada kuliah. Ternyata, biaya itupun masih ditambah lagi biaya “menanggulangi teman yang tidak jadi ikut”: 25 ribu dibagi 3.

Ah… yasudahlah. Film “300” ini memang sangat memuaskan mata, meskipun menurut saya masih di bawah trilogi “The Lord of The Ring” atau “Star Wars III”. Satu hal yang patut diacungi jempol: film ini bisa membuat suasana sedemikian rupa, sehingga membuat saya ikut tertular semangat berperang Sparta yang brutal. Adrenalin saya ikut naik ketika menyaksikan darah muncrat, mayat bergelimpangan, dan kepala menggelinding, padahal saya cuma duduk saja selama menonton (ya iyalah… masa jingkrak-jingkrak). Rasanya jika saat itu saya memegang pedang, saya mungkin akan mencabik-cabik orang di depan saya (!!!).

Tetapi, ada juga hal-hal yang menurut saya kurang dari film ini, atau mungkin tidak sesuai ekspektasi saya. Pertama, ceritanya sangat standard, datar. Yang kedua, masalah dialog. Dialognya minim, tidak “cerdas”, dan terlalu teatrikal. Terakhir, film ini tampak terlalu hiperbolis (mengingat film ini diinspirasi dari kisah nyata) dan ganjil. Ganjil jika melihat suatu sejarah yang difilmkan, tapi di beberapa sisi ada yang, sebut saja tidak logis, malah terkesan mistis. Ya, saya berbicara tentang makhluk-makhluk aneh di balatentara Persia (si Kepala Kambing, si Tangan Pisau, termasuk Xerxes sendiri yang besar tubuhnya di luar kewajaran). Ini membuat “300” terasa “setengah-setengah”.

Meskipun begitu, secara keseluruhan “300” layak ditonton. Dengan catatan, anda memang “hanya” mengharapkan suatu film perang yang brutal dengan aksi perang gila-gilaan.


About this entry