Jauh di atas sana

Malam hari, sekitar tengah malam, biasanya suasana pemukiman sudah sepi. Tak terkecuali, di pinggir kota (seperti di rumah saya), ataupun di tengah kota (tempat kos saya sekarang). Apalagi menjelang hari Senin. Orang-orang biasanya sudah terlelap cepat, menyiapkan tenaga untuk menghadapi seminggu ke depan. Seperti inilah keadaannya tadi di jalan menuju pulang. Gelap. Lampu-lampu telah dimatikan. Sunyi, sepi. Tidak ada tanda kehidupan sebagaimana siang hari. Perasaan menjadi sangat rawan, ketakutan muncul. Saat seperti inilah saya merasakan, bagaimanapun, manusia memang perlu teman.

 

Untungnya, langit malam ini cerah. Setelah hujan sangat deras sore tadi, awan sudah habis. Yang terlihat di langit hanya bintang-bintang. Cahayanya yang setitik kecil tapi bertaburan seperti menjadi lampu-lampu yang menerangi jalan yang sudah gelap dan sepi. Dan saya merasa ditemani. Meski bintang-bintang itu hanya diam saja di atas sana.

 

Saya jadi teringat dulu sewaktu kecil, dalam banyak waktu saya suka memerhatikan segala hal yang menarik di langit malam. Entah itu bintang, bulan, atau lampu pesawat yang bergerak sambil berkedip-kedip. Tapi tidak ada yang lebih menarik bagi saya selain setitik cahaya yang berkelip warna-warni. Yang semakin lama seperti bergerak mendekat.

 

Dari saya lahir, bahkan jauh sebelumnya, manusia sudah melemparkan gagasan akan adanya makhluk selain kita yang tinggal di atas sana, di luar bumi kita. Saya sebagai anak kecil, sangat terpengaruh oleh gagasan itu. Dan tentu saja yang paling meracuni pikiran saya adalah cerita mengenai pesawat si alien yang sangat hebat. Saya selalu bertanya-tanya, dan berandai-andai, setiap malam kala melihat cahaya yang berkelip warna-warni tersebut, mungkinkah cahaya itu berasal dari kilau suatu pesawat alien yang sedang menuju ke bumi? Andaipun begitu, apakah kiranya maksud kedatangan dia atau mereka ke sini?

 

Kebanyakan dari cerita yang dibawakan kepada kita, menggambarkan alien sebagai makhluk buruk rupa, tidak bersahabat, memunyai teknologi yang super canggih, dan berkeinginan menaklukkan manusia agar dapat menguasai planet bumi. Hanya sedikit yang menyebutkan alien sebagai makhluk yang bersahabat, film E.T. misalnya. Namun itupun masih menampilkan sosok alien yang buruk rupa. Mungkin memang beginilah egonya manusia. Ingin diakui sebagai makhluk yang paling sempurna sejagad raya. Dan tentunya yang paling hebat juga. Lihat saja, di cerita-cerita itu pada akhirnya manusia selalu menang.

 

Begitulah, sewaktu kecil dulu saya yakin sekali, ada makhluk lain di luar sana selain kita manusia. Tapi hal ini tidak lebih hanya imajinasi masa kecil karena pengaruh cerita-cerita itu. Toh, sampai sekarang, tak ada satupun dari cahaya yang berkelip warna-warni kala malam itu yang benar-benar sampai ke sini dan “menyapa” warga bumi. Meski mungkin saja hal itu terjadi namun di luar sepengetahuan kita sebagai orang awam. Siapa yang tahu? Banyak kisah tentang peristiwa misterius yang sulit dijelaskan. Penculikan, fenomena crop circle. Semakin banyak saksi, tapi persoalan makhluk dari luar bumi ini tidak juga semakin terang.

 

Sebenarnya, dunia ini luas sekali. Beratus miliar galaksi. Dan setiap galaksi terdiri dari bermiliar-miliar bintang, bermiliar-miliar tata surya, dan di salah satu tata surya itu barulah terdapat bumi. Bumi yang sungguh sangat-sangat sangat kecil dibandingkan seisi dunia. Namun cuma di tempat sekecil itulah hidup sebuah makhluk cerdas yang bernama manusia. Alam seluas ini. Apakah hanya bumi satu-satunya tempat untuk kehidupan? Dan apakah cuma manusia satu-satunya makhluk yang ditakdirkan menikmatinya?


About this entry