Somewhere Between…

Hujan tak selamanya turun. Suatu saat matahari tersenyum lebar di langit yang biru cerah. Dan dunia menghangat. Seperti seteguk sekoteng panas tatkala malam makin larut dan mendingin. Dia merasakan getar kehidupan masuk mengaliri jiwa yang selama ini membeku. Kenyamanan ada di setiap tempat. Tanpa perlu payung, atau segelas cokelat hangat. Semilir angin yang meniup wajah nan merah merona. Membuat dia ingin terbang. Terbang bersama angin. Bebas, lepas ke angkasa raya. Meninggalkan rumah dan segala isinya. Meski kadang terasa berat. Karena semuanya masih seindah dulu. Tapi, mungkin memang jalan ini yang terbaik bagi dia. Setelah sekian lama menetap. Mungkin memang bukan di sini tempat baginya.

Di malam yang berhiaskan kelip berjuta-juta bintang, sementara awan tipis lembut dan bulan bercahaya emas. Langit bagai lukisan yang paling indah. Begitupun, dengan senyum dia yang sungguh memesona yang seperti tak lekang dimakan usia. Dalam hati ia merasa, ia pun akan rela meski harus mati saat itu juga. Karena baginya, semua keindahan yang ada di dunia sudah hadir di situ, saat itu. Dan memang, ia seperti ingin mati saja ketika akhirnya dia ucapkan salam perpisahan. Bulir air mata tak tertahankan dari kedua matanya yang bening. Betapapun, itu tak cukup menahan waktu untuk berhenti. Dia beranjak pergi juga, terbang ke langit malam. Bergabung bersama bintang-bintang nan kemilau. Menjadi cahaya, yang semoga saja dapat selalu menerangi ia di kala malam.

Di pelataran warung kopi, orang-orang mulai pulang. Warung semakin sepi, tapi radio masih menyala. Masih ada seorang pelukis yang tangannya mulai menari di atas kanvas. Pelukis itu menggambar sebuah tembok besar. Tembok yang lebih dahsyat dari tembok manapun yang pernah ada. Panjangnya tidak berbatas dan tingginya tidak berhingga.
Sementara itu, dari radio melantun sebuah tembang lawas…

“Di antara, hatiku, hatimu
Terbentang dinding yang tinggi
Tak satu jua jendela di sana
Agar ku memandangmu…”


About this entry