Rumah

Kembali ke rumah. Tempat satu-satunya saya bisa berlindung dari dunia. Meski kecil, meski panas, meski hanya ada satu televisi yang ukuran layarnyapun lebih kecil dari layar notebook saya. Yah, ini tetap rumah saya -walau bukan milik saya. Di dalamnya saya aman. Rumahku, istanaku.

Di rumah saya sejak setahun-dua tahun belakangan ada seekor kucing yang galaknya minta ampun. Tapi kini dia sudah menghilang sekitar 3 minggu. Sejak mulai dewasa dan bisa berkelahi, dia memang lebih sering ada di luar. Pulang hanya untuk makan. Bagaimanapun, akhirnya pagi ini saya lihat dia masuk dari pintu jemuran. Memang, lagi-lagi hanya untuk makan. Tapi dia tahu ke mana harus kembali, ke rumah.

Lama-lama berdiam di rumah, juga terasa membosankan. Tak ada yang harus dikerjakan. Malah bingung sendiri mau apa. Mungkin ini karena hidup saya belum punya tujuan pasti. Masih terombang-ambing. Ke sana… Kemari… Saya cukup terkejut juga ketika makan malam orang tua saya bertanya, “Setelah lulus sudah ada target mau bekerja di mana?”. Dan dengan malu saya bilang, “belum…”

Beginilah, saya harus (kembali) memikirkan masa depan saya dengan serius, karena ternyata masih kosong melompong…

Rumah yang sekarang saya diami ini, bukan rumah saya. Tak lama lagi, saya harus keluar, bertarung. Untuk membangun rumah saya sendiri. Rumah fisik, dan rumah mental.


About this entry