Laporan Pandangan Mata Indonesia v.s. Bahrain (tunda)

Di sini reporter Syahdana melaporkan secara tunda hasil pandangan mata pertandingan Piala Asia 2007, partai Indonesia v.s. Bahrain.

Indonesia v.s. Bahrain – Gelora Bung Karno (GBK), Selasa 14 Juli 2007, kick-off 17.20

Menuju ke tempat pertandingan di Senayan, Jakarta, saya berangkat langsung dari Bandung siang harinya. Tiba di sana, dari area parkir JCC saya harus berjalan ke tempat pertemuan dengan kawan-kawan di mesjid Al Bina. Sebelumnya saya sudah mendapat informasi kalau area stadion akan ditutup untuk umum dan hanya yang memegang tiket pertandingan yang diperbolehkan masuk. Maka saya terpaksa mengitari area stadion untuk menuju ke tempat tersebut.

Ternyata, saya mengambil jalan yang lebih jauh (!!!). Namun saya jadi bisa melihat keadaan pra-pertandingan: suporter beratribut merah-putih yang berkeliaran di mana-mana, berlari-lari, berteriak, berjejal di dalam maupun di atas bis, sampai yang nekat memanjat pagar karena tidak memiliki tiket tapi gregetan ingin masuk. Sebenarnya pemanjat-pemanjat pagar ini bukannya tidak ingin membeli tiket. Tapi buruknya manajemen penjualan tiket menyebabkan tiket sukar diperoleh, bahkan oleh saya dan kawan-kawan yang sudah memesan tiket beberapa hari sebelum pertandingan. Singkat cerita, pada akhirnya saya dan kawan-kawan pun tidak memperoleh tiket di tangan untuk pertandingan ini. Beruntung, modal kuitansi pembelian tiket bisa membawa kami masuk ke stadion sesaat sebelum kick-off.

Saya bersama kawan-kawan berada di sektor 18, duduk di tribun belakang gawang. Sialnya, obor besar di pinggir lapangan menyebabkan pandangan sedikit terganggu. Meski demikian, saya tetap menikmati pertandingan, dan terutama suasana di stadion yang begitu gemuruh. Betapa tidak, hampir 80 ribu orang berada di hadapan saya, kadang bernyanyi, kadang berteriak, kadang bernyanyi sambil berteriak, memberikan suatu kesan tersendiri. Sekadar catatan, ini pengalaman pertama saya menonton pertandingan sepakbola di stadion.

Pada jeda pertandingan, saya sedikit kebingungan karena harus shalat maghrib namun ternyata pintu stadion ditutup. Yang terjadi kemudian, muncullah shaf-shaf dadakan di koridor stadion dengan beralas koran. Sayang, saya tidak membawa koran. Untung saja orang di sebelah saya berbaik hati berbagi sajadah (rupanya dia well-prepared sekali ya :)).

Pertandingan paruh kedua dilanjutkan, dan stadion kembali bergemuruh kencang pada menit ke-64 kala B.P. (Bambang Pamungkas) menceploskan bola muntah hasil tendangan Firman Utina ke gawang Bahrain. Indonesia berhasil mempertahankan kedudukan sampai menit-menit akhir. Dan kala peluit panjang dibunyikan, ekspresi kemenangan mewarnai lapangan, ada yang melompat, saling merangkul, bahkan sujud mencium tanah. Lalu “sorak-sorai bergembira” menggema di GBK. Kemenangan yang luar biasa.


About this entry