Teater

Semua orang terpana, takjub dengan peran. Mereka mengagumi orang-orang bertopeng. Mereka ingin memakai topeng itu. Tampil di depan yang lain. Dielu-elukan, disoraki, dikenali semua orang. Tapi, tak mungkin semua orang menjadi aktor.

Maka, mereka yang kurang yakin akan kemampuannya, menepi, menonton manusia-manusia bertopeng yang menurut mereka beruntung itu. Dalam mimpi mereka, merekalah pemeran utama. Makanya mereka terus menonton dan terus pula bermimpi. Muka mereka berbinar, kadang tersenyum, kadang bersedih, bahkan tak jarang menangis. Mereka mengikuti drama kehidupan ini, dari awal sampai akhir, tanpa iklan, tanpa beranjak dari tempat duduknya yang sudah sedemikian nyaman karena pelayanan Sang pemilik Teater memang sungguh-sungguh hebat. Betapa tidak, di Kitab-Kitab Sejarah tertulis mereka tetap duduk dan menonton selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Mereka tahu, sampai saat ini cerita kehidupan itu belum pernah dan mungkin tak akan pernah tamat. Namun, hal itu tidak menghalangi mereka untuk terus menonton hingga pada akhirnya mereka tertidur untuk selamanya. Mungkin sebagian dari mereka berharap akan menjumpai akhir cerita itu.

Cerita itu sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak kakek-nenek moyang mereka masih hidup. Cerita itu ditulis dan diwariskan secrara turun-temurun dalam garis keluarga mereka. Itulah sebabnya, menonton cerita itu menjadi salah satu tujuan hidup bagi mereka dan keturunan-keturunan mereka. Mereka diwajibkan untuk melengkapi cerita, ini selalu merupakan titah dari eyang-eyang mereka. Padahal, sekali lagi, mereka tahu cerita itu sendiri tidak jelas kapan berakhirnya.

Tapi, entah kenapa wajah mereka selalu berbinar-binar seperti menandakan penikmatan. Barangkali inilah yang sering ibuku katakan sebagai “Kebahagiaan”. Barangkali, ya… barangkali. Karena bagaimana aku tahu sementara aku saja belum pernah menonton di Teater itu?

<< re-post dari blog di Friendster, 19 April 2005 >>


About this entry