Kompas Minggu, Tari Pendet, dan Budaya Indonesia

Minggu siang. Habis mandi. Saya di depan komputer dengan browser yang udah kebuka. Bingung mau ke mana. Hmmm… ini hari Minggu dan di Kompas Minggu pasti ada “Benny and Mice”😀. Untungnya Kompas sekarang sudah berbaik hati menerbitkan epaper, gratis! Yaudah deh, sekalian baca-baca, memperkaya kemampuan berbahasa dan memutakhirkan (baca: update) basis pengetahuan.

Kompas Minggu paling sering saya baca di antara Kompas-Kompas hari lain. Selain karena “Benny and Mice”, juga karena konten (padanannya apa ya?) lain yang pas untuk dibaca di hari libur begini, seperti cerpen, tempat wisata, kuliner, resensi, dll. Di bawah kolom cerpen biasanya ada tulisan mengenai Seni/Budaya dari para “ahli”, yang saya sebut “ahli” karena suka menggunakan istilah-istilah yang saya tak mengerti, dan demikian membuat saya malas membacanya. Maunya sih sok-sok-an penikmat Seni/Budaya, tapi apa daya pengetahuan tak sampai :p. Bagaimanapun juga, nggak ada salahnya mencicip. Coba dulu separaraf-dua paragraf. Kalau asyik, lanjut… (nggak pakai “-kan” lho :D).

Kebetulan hari ini tulisannya nggak berat, mutakhir, dan segar. Segar, karena memberi suatu pandangan alternatif tentang topik yang diangkat, di antara begitu seragamnya pandangan yang beredar (yang juga berhasil “memerdaya” saya). Ini tentang ribut-ribut tari Pendet, yang berujung pada kembali memanasnya “g*ny*ng” Malaysia”. Terus terang, seperti kebanyakan orang Indonesia, saya terbawa suasana, saya ikut geram dengan tingkah saudara kita yang satu itu. Ini sudah keberapa kalinya mereka menampilkan kesenian Indonesia, seolah-olah itu adalah kesenian Malaysia.

Apakah marah dan protes menjadi satu-satunya cara kita menanggapi hal itu? Melalui tulisan di Kompas Minggu, Amir Sidharta punya pandangan alternatif yang menurut saya lebih ngena. Menanggapi persoalan klaim budaya tersebut, katanya orang Indonesia mulai paranoid. Paranoid karena takut kehilangan budayanya. Takut kehilangan karena nggak percaya diri atas budayanya sendiri. Nggak percaya diri karena kurang paham dan kurang peduli pada budaya sendiri.

Seharusnya kita–orang Indonesia, kalau memang pede memiliki budaya tersebut, nggak perlu kuatirlah. Masyarakat dunia nggak bodoh kok. Kalau mereka pernah ke Bali, merekapun semestinya tahu dari mana tari Pendet yang aseli. Kalaupun mereka tidak, seharusnya kita pun bisa meyakinkan mereka, dengan pengetahuan tentang tari itu, atau malah menarikannya langsung🙂.

Sayangnyaaa, mungkin sebagian besar orang Indonesia seperti saya, yang tahu tarian itu hanya seujung kuku saja. Lantas bagaimana bisa menarikannya? Tidak cuma tari Pendet, “Rasa Sayange” saya cuma hapal lirik reffnya saja, cerita-cerita wayang cuma tahu sedikit, batik cuma dipakai bajunya tiap Jumat atau tiap kondangan, gamelan cuma bisa main gong saja. Demikian jelas tandanya kalau saya tidak tahu dan tidak perhatian terhadap budaya Indonesia.

Tentu saja, ini membuat saya prihatin sendiri. Semestinya kita bisa ambil hikmah kejadian ini. Ketimbang cuma ngedumel, menyalah-nyalahkan negara lain. Mari mulai cintai budaya Indonesia. Kenali, lindungi, dan beritahukan kepada dunia. Yuk mari…


About this entry